hmm..
Status fbku kemarin malam: "kebersamaan tak ternilai dengan apapun juga karena momen dan kenangan tak dpat dibeli"
Yeah, sekarang aku tau rasanya ibu-ibu yang suaminya tajir, anak-anak yg orangtuanya tajir, mereka belum tentu bahagia.
Kasih sayang dan kebersamaan digantikan dengan uang, memang mereka bisa mendapatkan hampir semua yang mereka inginkan, tetapi jauh di lubuk hati mereka yang paling dalam, mereka lebih memilih mendapatkan kasih sayang dan berkumpul bersama orang yang mereka kasihi. Para suami dan orangtua yang bekerja keras mencari nafkah, saking kerasnya hingga lupa waktu, mencoba menggantikan momen-momen yang hilang itu dengan segepok uang.
Absen menghadiri pentas seni anak, absen merawat pasangan ketika sedang sakit atau ketika pasangan sedang membutuhkan suaminya, absen ketika ulang tahun perkawinan, dan lainnya coba digantikan dengan membanjiri anak dan pasangan mereka dengan uang dan fasilitas wah.
Ya, di satu sisi ada enaknya, tapi kok ya rasaku lebih banyak gak enaknya.
makanya aku bilang kebersamaan itu gak tergantikan seberapa besar duit dan usaha yang kamu keluarkan. Apa momen ulang tahun anak, pasangan atau bahkan ulang tahun perkawinan bisa terulang? yang pasti gak, karena tanggal itu cuma terjadi sekali dalam setahun. Apa momen dan kenangan merawat pasangan yang sakit bisa terulang?
Ya kalo istri/suami sering-sering sakit ya iya, tapi masa mengharapkan pasangan kita sakit terus, hehehe..
Ya, makanya aku salut banget kalo dengar atau baca cerita anak yang meninggalkan pekerjaannya untuk merawat ibunya, atau istri/suami yang meninggalkan pekerjaannnya untuk merawat pasangannya, aku salut sekali karena jujur, aku belum tentu bisa seperti mereka.
Apa ya.. hampa gitu rasanya, punya uang dan segala macamnya tapi gak bisa berbagi secara langsung keadaaan dan kondisi kita pada pasangan atau pun keluarga kita.
Aku sendiri juga gak bisa membayangkan keadaaan rumah tangga yang terpisah satu sama lain, bagiku itu bukan rumah tangga, walaupun banyak argumen mengatakan jarak itu bukan masalah, salah satu bisa pulang di akhir minggu dan berkumpul, tapi tetap saja bagiku itu gak enak. Itu beruntung kalo cuma satu minggu, nah kalo terpaksa ditinggal berbulan, dan dua atau tiga bulan sekali baru bisa berkumpul, apa yang bakal terjadi, bahkan anak pun lebih dekat dengan tetangga atau om/tantenya dibandingkan dengan ayah/ibunya, ya Allah jangan sampai itu terjadi pada keluargaku kelak.
Tapi kayaknya [mudah2an enggak :(] itu bakal terjadi sih sama aku, kalo ngeliat kondisi dan situasi sekarang ini. Aku harus lebih siap mental, dan lebih semangat, karena hal yang udah aku jalani 6 bulan ini akan lebih panjang dari perkiraanku, mudah-mudahan aja gak sampai ketika kami mulai membangun keluarga kecil kami, ah entahlah..
Jujur aku lebih bahagia ketika kami berhemat ketika weekend jatuh di penghujung bulan, duduk di taman dengan snack seadanya, tapi aku bisa berbagi seluruh perasaanku, bisa bercerita dan hidupku lebih bersemangat.
Jujur aku lebih memilih untuk menunda menyatukan ikatan suci kami 2 atau bahkan 3 tahun lagi, demi mengumpulkan dananya sedikit demi sedikit asalkan kami tetap bersama, suka dan duka dalam mengumpulkan semuanya, mengurus semuanya, dan ada ketika aku butuh dia dan dia butuh aku.
Mungkin aku egois, ya aku egois karena aku ingin terus bersamanya, ingin terus berbagi suka dan duka bersamanya, berbagi cerita dan berbagi tawa serta tangis, ya aku egois..
ah tapi itu semua tinggal mimpi...
Karena aku sudah tau semua jawaban dari semua pertanyaan yang ada di kepalaku, semua terjawab dari jawabannya atas pertanyaanku.
Sekarang tinggal menyiapkan mental dan kondisiku untuk lebih lama lagi dalam situasi seperti ini, ya sekarang malah dobel minusnya nih, harus berjauhan dan untuk waktu yang lebih lama. Waktunya kembali mandiri, seperti ketika aku belum bertemu dengannya, seperti ketika aku belum terbiasa berbagi dengannya, dan aku tau aku pasti bisa :)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Wednesday, 25 May 2011
Untittled
hmm..
Status fbku kemarin malam: "kebersamaan tak ternilai dengan apapun juga karena momen dan kenangan tak dpat dibeli"
Yeah, sekarang aku tau rasanya ibu-ibu yang suaminya tajir, anak-anak yg orangtuanya tajir, mereka belum tentu bahagia.
Kasih sayang dan kebersamaan digantikan dengan uang, memang mereka bisa mendapatkan hampir semua yang mereka inginkan, tetapi jauh di lubuk hati mereka yang paling dalam, mereka lebih memilih mendapatkan kasih sayang dan berkumpul bersama orang yang mereka kasihi. Para suami dan orangtua yang bekerja keras mencari nafkah, saking kerasnya hingga lupa waktu, mencoba menggantikan momen-momen yang hilang itu dengan segepok uang.
Absen menghadiri pentas seni anak, absen merawat pasangan ketika sedang sakit atau ketika pasangan sedang membutuhkan suaminya, absen ketika ulang tahun perkawinan, dan lainnya coba digantikan dengan membanjiri anak dan pasangan mereka dengan uang dan fasilitas wah.
Ya, di satu sisi ada enaknya, tapi kok ya rasaku lebih banyak gak enaknya.
makanya aku bilang kebersamaan itu gak tergantikan seberapa besar duit dan usaha yang kamu keluarkan. Apa momen ulang tahun anak, pasangan atau bahkan ulang tahun perkawinan bisa terulang? yang pasti gak, karena tanggal itu cuma terjadi sekali dalam setahun. Apa momen dan kenangan merawat pasangan yang sakit bisa terulang?
Ya kalo istri/suami sering-sering sakit ya iya, tapi masa mengharapkan pasangan kita sakit terus, hehehe..
Ya, makanya aku salut banget kalo dengar atau baca cerita anak yang meninggalkan pekerjaannya untuk merawat ibunya, atau istri/suami yang meninggalkan pekerjaannnya untuk merawat pasangannya, aku salut sekali karena jujur, aku belum tentu bisa seperti mereka.
Apa ya.. hampa gitu rasanya, punya uang dan segala macamnya tapi gak bisa berbagi secara langsung keadaaan dan kondisi kita pada pasangan atau pun keluarga kita.
Aku sendiri juga gak bisa membayangkan keadaaan rumah tangga yang terpisah satu sama lain, bagiku itu bukan rumah tangga, walaupun banyak argumen mengatakan jarak itu bukan masalah, salah satu bisa pulang di akhir minggu dan berkumpul, tapi tetap saja bagiku itu gak enak. Itu beruntung kalo cuma satu minggu, nah kalo terpaksa ditinggal berbulan, dan dua atau tiga bulan sekali baru bisa berkumpul, apa yang bakal terjadi, bahkan anak pun lebih dekat dengan tetangga atau om/tantenya dibandingkan dengan ayah/ibunya, ya Allah jangan sampai itu terjadi pada keluargaku kelak.
Tapi kayaknya [mudah2an enggak :(] itu bakal terjadi sih sama aku, kalo ngeliat kondisi dan situasi sekarang ini. Aku harus lebih siap mental, dan lebih semangat, karena hal yang udah aku jalani 6 bulan ini akan lebih panjang dari perkiraanku, mudah-mudahan aja gak sampai ketika kami mulai membangun keluarga kecil kami, ah entahlah..
Jujur aku lebih bahagia ketika kami berhemat ketika weekend jatuh di penghujung bulan, duduk di taman dengan snack seadanya, tapi aku bisa berbagi seluruh perasaanku, bisa bercerita dan hidupku lebih bersemangat.
Jujur aku lebih memilih untuk menunda menyatukan ikatan suci kami 2 atau bahkan 3 tahun lagi, demi mengumpulkan dananya sedikit demi sedikit asalkan kami tetap bersama, suka dan duka dalam mengumpulkan semuanya, mengurus semuanya, dan ada ketika aku butuh dia dan dia butuh aku.
Mungkin aku egois, ya aku egois karena aku ingin terus bersamanya, ingin terus berbagi suka dan duka bersamanya, berbagi cerita dan berbagi tawa serta tangis, ya aku egois..
ah tapi itu semua tinggal mimpi...
Karena aku sudah tau semua jawaban dari semua pertanyaan yang ada di kepalaku, semua terjawab dari jawabannya atas pertanyaanku.
Sekarang tinggal menyiapkan mental dan kondisiku untuk lebih lama lagi dalam situasi seperti ini, ya sekarang malah dobel minusnya nih, harus berjauhan dan untuk waktu yang lebih lama. Waktunya kembali mandiri, seperti ketika aku belum bertemu dengannya, seperti ketika aku belum terbiasa berbagi dengannya, dan aku tau aku pasti bisa :)
Status fbku kemarin malam: "kebersamaan tak ternilai dengan apapun juga karena momen dan kenangan tak dpat dibeli"
Yeah, sekarang aku tau rasanya ibu-ibu yang suaminya tajir, anak-anak yg orangtuanya tajir, mereka belum tentu bahagia.
Kasih sayang dan kebersamaan digantikan dengan uang, memang mereka bisa mendapatkan hampir semua yang mereka inginkan, tetapi jauh di lubuk hati mereka yang paling dalam, mereka lebih memilih mendapatkan kasih sayang dan berkumpul bersama orang yang mereka kasihi. Para suami dan orangtua yang bekerja keras mencari nafkah, saking kerasnya hingga lupa waktu, mencoba menggantikan momen-momen yang hilang itu dengan segepok uang.
Absen menghadiri pentas seni anak, absen merawat pasangan ketika sedang sakit atau ketika pasangan sedang membutuhkan suaminya, absen ketika ulang tahun perkawinan, dan lainnya coba digantikan dengan membanjiri anak dan pasangan mereka dengan uang dan fasilitas wah.
Ya, di satu sisi ada enaknya, tapi kok ya rasaku lebih banyak gak enaknya.
makanya aku bilang kebersamaan itu gak tergantikan seberapa besar duit dan usaha yang kamu keluarkan. Apa momen ulang tahun anak, pasangan atau bahkan ulang tahun perkawinan bisa terulang? yang pasti gak, karena tanggal itu cuma terjadi sekali dalam setahun. Apa momen dan kenangan merawat pasangan yang sakit bisa terulang?
Ya kalo istri/suami sering-sering sakit ya iya, tapi masa mengharapkan pasangan kita sakit terus, hehehe..
Ya, makanya aku salut banget kalo dengar atau baca cerita anak yang meninggalkan pekerjaannya untuk merawat ibunya, atau istri/suami yang meninggalkan pekerjaannnya untuk merawat pasangannya, aku salut sekali karena jujur, aku belum tentu bisa seperti mereka.
Apa ya.. hampa gitu rasanya, punya uang dan segala macamnya tapi gak bisa berbagi secara langsung keadaaan dan kondisi kita pada pasangan atau pun keluarga kita.
Aku sendiri juga gak bisa membayangkan keadaaan rumah tangga yang terpisah satu sama lain, bagiku itu bukan rumah tangga, walaupun banyak argumen mengatakan jarak itu bukan masalah, salah satu bisa pulang di akhir minggu dan berkumpul, tapi tetap saja bagiku itu gak enak. Itu beruntung kalo cuma satu minggu, nah kalo terpaksa ditinggal berbulan, dan dua atau tiga bulan sekali baru bisa berkumpul, apa yang bakal terjadi, bahkan anak pun lebih dekat dengan tetangga atau om/tantenya dibandingkan dengan ayah/ibunya, ya Allah jangan sampai itu terjadi pada keluargaku kelak.
Tapi kayaknya [mudah2an enggak :(] itu bakal terjadi sih sama aku, kalo ngeliat kondisi dan situasi sekarang ini. Aku harus lebih siap mental, dan lebih semangat, karena hal yang udah aku jalani 6 bulan ini akan lebih panjang dari perkiraanku, mudah-mudahan aja gak sampai ketika kami mulai membangun keluarga kecil kami, ah entahlah..
Jujur aku lebih bahagia ketika kami berhemat ketika weekend jatuh di penghujung bulan, duduk di taman dengan snack seadanya, tapi aku bisa berbagi seluruh perasaanku, bisa bercerita dan hidupku lebih bersemangat.
Jujur aku lebih memilih untuk menunda menyatukan ikatan suci kami 2 atau bahkan 3 tahun lagi, demi mengumpulkan dananya sedikit demi sedikit asalkan kami tetap bersama, suka dan duka dalam mengumpulkan semuanya, mengurus semuanya, dan ada ketika aku butuh dia dan dia butuh aku.
Mungkin aku egois, ya aku egois karena aku ingin terus bersamanya, ingin terus berbagi suka dan duka bersamanya, berbagi cerita dan berbagi tawa serta tangis, ya aku egois..
ah tapi itu semua tinggal mimpi...
Karena aku sudah tau semua jawaban dari semua pertanyaan yang ada di kepalaku, semua terjawab dari jawabannya atas pertanyaanku.
Sekarang tinggal menyiapkan mental dan kondisiku untuk lebih lama lagi dalam situasi seperti ini, ya sekarang malah dobel minusnya nih, harus berjauhan dan untuk waktu yang lebih lama. Waktunya kembali mandiri, seperti ketika aku belum bertemu dengannya, seperti ketika aku belum terbiasa berbagi dengannya, dan aku tau aku pasti bisa :)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment